Rabu, 20 November 2013

GAMBARAN PERILAKU IBU HAMIL TRIMESTER III TERHADAP KEPATUHAN MENGKONSUMSI TABLET ZAT BESI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN LEALEA KOTA BAUBAU TAHUN LOWULOWU 2012



KOTA BAUBAU TAHUN LOWULOWU 2012




KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Program
Studi Diploma III Kebidanan
Oleh :
MINARTI
AK. 090139



AKADEMI KEBIDANAN YAYASAN KESEHATAN NASIONAL
KOTA BAUBAU 2012



ABSTRAK
Minarti, “Gambaran Perilaku Ibu Hamil Trimester III terhadap Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Zat Besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012”, dibawah bimbingan Ibu Risnawati dan Bapak Sudirman.
6 Bab, 45 Halaman, 7 Tabel, 1 Gambar, 5 Lampiran
Zat besi adalah salah satu mineral penting yang diperlukan selama kehamilan dengan jumlah sekitar 45-60 mg sehari. Kebutuhan ini dapat terpenuhi dengan mengkonsumsi makanan yg mengandung zat besi dan suplemen zat besi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap dan tindakan ibu hamil trimester III terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012. Jenis penelitian deskriptif dengan jumlah sampel 30 orang dan teknik pengambilan sampel dengan cara totalsampling. Penelitian ini dilakukan sejak bulan Februari sampai Maret 2012.Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Data diolah menggunakan SPSS 18,0 dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dilengkapi dengan penjelasan-penjelasan.
Hasil penelitian diproleh bahwa dari 30 responden ibu hamil trimester III terdapat 15 orang (50%) berpengetahuan baik dan 15 orang (15%) berpengetahuan kurang baik, 13 orang (43,33%) memiliki sikap baik dan 17 orang (56,67%) memiliki sikap kurang baik , 12 orang (40%) memiliki tindakan yang baik dan 18 orang (60%) yang memiliki tindakan kurang baik serta 12 orang (40%) patuh mengkonsumsi tablet zat besi dan 18 orang (60%) tidak patuh mengkonsumsi tablet zat besi.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa ibu hamil trimester III memiliki kepatuhan yang kurang baik dalam mengkonsumsi tablet zat besi. Oleh karena itu, diharapkan kepada pihak Puskesmas Lowulowu khususnya bidan untuk memberikan informasi dan motivasi kepada ibu hamil agar patuh mengkonsumsi tablet zat besi.
Kata kunci : Pengetahuan, sikap, tindakan, kepatuhan
Daftar pustaka : 20 Literatur

PENDAHULUAN
Pembangunan kesehatan masyarakat di Indonesia pada hakekatnya untuk meningkatkan angka harapan hidup, meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta kualitas kehidupan guna meningkatkan kesejahteraan keluarga agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal (Depkes RI Tahun 2009).
Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, sehingga perlu senantiasa diusahakan agar setiap penduduk makin menyadari pentingnya kesehatan bagi dirinya sendiri dan lingkungannya, serta makin mampu untuk berprilaku hidup sehat. Untuk mencapai hal tersebut memerlukan usaha perbaikan dan peningkatan gizi masyarakat merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas hidup dan produktifitas. Saat ini masih terdapat empat masalah gizi yang merupakan masalah kesehatan nasional yaitu Gangguan Akibat Kekurangan lodium (GAKI), anemia gizi, kekurangan vitamin A dan kekurangan energi protein.
Berbagai kajian ilmiah menunjukan bahwa penderita gizi buruk juga menderita kekurangan zat besi yang berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Tetapi anemia yang memprihatinkan adalah anemia yang terjadi pada ibu hamil dan balita karena merupakan kelompok yang memiliki masa emas sekaligus masa
kritis. Maksudnya ibu yang mengandung sangat memerlukan mineral, protein dan juga asam folat.
Anemia pada kehamilan merupakan masalah yang umum karena mencerminkan nilai kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat dan pengaruhnya sangat besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Anemia hamil disebut ’’Potensial danger of mother and child’ (potensial membahayakan ibu dan anak), karena itulah anemia memerlukan perhatian serius dari semua pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan pada hari depan (Manuaba, 1998).
Menurut WHO penyebab kematian ibu berasal dari perdarahan 35%, infeksi 25%, gestosis 17%, abortus 10% dan lain-lain 10%. Sebanyak 4% kematian para ibu di negara yang sedang berkembang berkaitan dengan anemia dalam kehamilan. Kebanyakan anemia disebabkan oleh definisi besi dan perdarahan akut, bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi (Sarwono, 2007).
 Dalam mengatasi masalah anemia pada ibu hamil Dinas Kesehatan Kota Baubau mempunyai program suplementasi tablet tambah darah yang bisa didapatkan di masing-masing puskesmas. Tablet tambah darah dapat menghindari anemia besi dan anemia asam folat. Pada ibu hamil dianjurkan untuk mengkonsumsi tablet zat besi minimal 90 tablet selama hamil. Pada beberapa ibu hamil, zat besi yang terkandung dalam vitamin kehamilan bisa menyebabkan sembelit atau diare serta pusing-pusing.
Berdasarkan data Puskesmas Lowulowu tahun 2011 ada 140 ibu hamil yang memperoleh tablet zat besi, namun 136 yang mengatakan tidak rutin meminum tablet zat besi.
Kebutuhan zat besi ibu selama kehamilan adalah 800 mg besi diantaranya 300 mg untuk janin plasenta dan 500 mg untuk pertambahan eritrosit ibu, untuk itulah ibu hamil membutuhkan 2-3 mg zat besi tiap hari (Manuaba, 1998).
Di Puskesmas Lowulowu, ibu hamil selalu diberikan tablet zat besi setiap melakukan pemeriksaan kehamilan. Berdasarkan data dari bagian KIA Puskesmas Lowulowu Tahun 2012 dari 30 ibu hamil trimester III yang telah memperoleh tablet tambah darah. Sebagian besar dari mereka sudah mengetahui pentingnya mengkonsumsi tablet zat besi namun terjadi ketidakpatuhan ibu hamil untuk mengkonsumsi tablet zat besi.
Secara umum, ketidakpatuhan dapat menyebabkan meningkatnya resiko berkembangnya masalah kesehatan atau memperpanjang atau memperburuk kesakitan yang sedang diderita. Perkiraan yang ada menyatakan bahwa 20% opname di rumah sakit merupakan akibat dari ketidakpatuhan pasien terhadap aturan pengobatan. Ketidakpatuhan ibu hamil meminum tablet zat besi dapat mencerminkan seberapa besar peluang untuk terkena anemia
Dari bingkai paradigma inilah peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai gambaran perilaku ibu hamil trimester
III (tiga) terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012.
 
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1.      Bagaimana gambaran pengetahuan ibu hamil trimester III(tiga) terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau
Tahun 2012?”
2.      Bagaimana gambaran sikap ibu hamil trimester III(tiga) terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau
Tahun 2012?
3.      Bagaimana gambaran tindakan ibu hamil trimester III(tiga) terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau
Tahun 2012?

Untuk mengetahui gambaran perilaku ibu hamil trimester III (tiga) terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012.
a.    Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil trimester III (tiga) terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012.
b.    Untuk mengetahui gambaran sikap ibu hamil trimester III (tiga) terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012.
c.    Untuk mengetahui gambaran tindakan ibu hamil trimester III (tiga) terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012.
 
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan yang berharga bagi peningkatan ilmu pengetahuan khususx tenaga kesehatan.
Bagi Institusi Akademi Kebidanan Yayasan Kesehatan Nasional Kota Baubau, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya dalam memperbanyak referensi mengenai perilaku ibu hamil terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi dan sebagai acuan bagi penelitian selanjutnya.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan bagi ibu hamil trimester III tentang fungsi dan manfaat mengkonsumsi tablet zat besi bagi kehamilannya.
Penelitian ini sangat berguna untuk menambah pengalaman dan wawasan keilmuan dalam melaksanakan penelitian serta sebagai salah satu syarat dalam rangka menyelesaikan program Diploma III Jurusan Kebidanan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Zat besi adalah salah satu mineral penting yang diperlukan selama kehamilan, bukan hanya untuk bayi tapi juga untuk ibu hamil. Bayi akan menyerap dan mengunakan zat besi dengan cepat, sehingga jika ibu kekurangan masukan zat besi selama hamil, bayi akan mengambil kebutuhanya dari tubuh ibu sehingga menyebabkan ibu mengalami anemia dan merasa lelah ( Suririnah, 2008 ).
Zat besi (Fe) merupakan mikro elemen yang esensial bagi tubuh. Zat ini terutama diperlukan dalam hemopobesis (pembentukan darah) yaitu dalam syntesa hemoglobin (Hb). Zat besi yang terdapat dalam semua sel tubuh berperan penting dalam berbagai reaksi biokimia, diantaranya dalam produksi sel darah merah. Sel ini diperlakukan untuk mengangkat oksigen keseluruh jaringan tubuh. Sedangkan oksigen penting dalam proses pembentukan energi agar produktivitas kerja meningkat serta tubuh tidak cepat lelah (Achmat, 1996).
Seorang ibu yang dalam masa hamilnya telah menderi kekurangan zat besi tidak dapat memberikan cadangan zat besi kepada bayinya dalam jumlah yang cukup untuk beberapa bulan pertama. Meskipun bayi itu mendapat air susu dari ibunya, tetapi
susu bukanlah bahan makanan yang banyak mangandung zat besi, karena itu diperlukan zat besi untuk mencegah anak menderita anemia (Moehji, 1992).
Suplementasi tablet zat besi adalah adalah pemberian zat besi folat yang berbentuk tablet, tiap tablet 60 mg besi elemental dan 1,25 mg asam folat, yang diberikan oleh pemerintah pada ibu hamil untuk mengatasi masalah anemia gizi besi (Depkes RI, 2002).
Pemberian suplementasi zat besi menguntungkan karena dapat memperbaiki status hemoglobin dalam tubuh waktu relatif singkat. Sampai sekarang cara ini masih merupakan salah satu cara yang dilakukan pada ibu hamil dan kelompok yang berisiko tinggi lainnya, seperti anak balita, anak sekolah dan pekerja.
Zat besi berfungsi untuk membentuk sel darah merah, sementara sel darah merah bertugas mengangkut oksigen dan zat- zat makanan keseluruh tubuh serta membantu proses metabolisme tubuh untuk menghasilkan energi. Jika asupan zat besi kedalam tubuh berkurang dengan sendirinya sel darah merah juga akan berkurang, tubuh pun akan kekurangan oksigen akibatnya timbullah gejala-gejala anemia.
Zat besi bagi ibu hamil penting untuk pembentukan dan mempertahankan sel darah merah. Kecukupan sel darah merah akan menjamin sirkulasi oksigen dan metabolisme zat-zat gizi yang dibutuhkan ibu hamil. Selain itu, asupun zat besi sejak awal kehamilan cukup baik, maka janin akan menggunakannya untuk kebutuhan tumbuh kembangnya, sekaligus menyimpan dalam hati sebagai cadangan sampai usia 6 bulan setelah dilahirkan.
 Kekurangan zat besi sejak sebelum hamil bila tidak diatasi dapat mengakibatkan ibu hamil menderita anemia, kondisi ini meningkatkan resiko kematian pada saat melahirkan, melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, janin dan ibu mudah terkena infeksi dan keguguran. Selain itu juga zat besi sangat dibutuhkan perkembangan otak bayi diawal kelahirannya (Junita, 2006).
a.   Lemah, lesu, tidak bergairah.
b.   Mudah pusing dan mata berkunang-kunang.
c.   Gelisah dan mudah pingsan.
d.   Sulit berkonsentrasi dan mudah lupa.
e.   Nafsu makan menurun.
f.    Badan tidak bugar dan mudah lemah (Ridwamiruddin, 2007).

5.       Kebutuhan Zat Besi Pada Ibu Hamil Trimester III
Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari laki-laki karena terjadi menstruasi dengan perdarahan sebanyak 50 sampai 80 cc setiap bulan dan kehilangan zat besi 30 sampai 40 mg. disamping itu kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah janin dan plasenta. Makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan akan makin banyak kehilangan zat besi dan akan menjadi anemia (Manuaba, 1998).
Zat besi penting untuk mengkompensasi peningkatan volume darah yang terjadi selama kehamilan, dan untuk memastikan pertumbuhan dan perkembagan janin yang adekuat. Kebutuhan zat besi meningkat selama kehamilan, sering dengan pertumbuhan janin. Ibu hamil dapat memenuhi kebutuhan zat besinya yang meningkat selama kehamilan dengan meminum tablet tambah darah (suplementasi tablet zat besi) dan dengan memastikan bahwa ibu hamil makan dengan cukup dan seimbang (Depkes, 2002).
Sebagai gambaran banyak kebutuhan zat besi pada kehamilan adalah :
a.   Meningkatkan sel darah ibu                         500 mgr Fe
b.  Terdapat dalam plasenta                              300 mgr Fe
c.   Untuk darah janin                                          100 mgr Fe
Jumlah 900 mgr Fe
 
Jika persalinan cadangan Fe minimal, maka setiap kehamilan akan mengurus persendian Fe tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya (Francin, 2004).
Untuk mengatasi kehilangan ini, ibu hamil memerlukan rata- rata 3,5-4 mg zat besi perhari. Kebutuhan ini akan meningkat secara signifikan dalam trimester terakhir, yaitu dari rata-rata 2,5 mg/hari pada awal kehamilan menjadi 6,6 mg/hari.
Ketika usia kehamilan mencapai 7-9 bulan (trimester III), dibutuhkan vitamin dan mineral untuk mendukung energi janin didapat dari cadangan energi yang disimpan ibu selama tahap sebelumnya.
Wanita hamil cenderung terkena anemia pada tiga bulan terakhir kehamilannya. Pada masa ini, janin menimbun cadangan zat besi untuk dirinya sendiri sebagai persediaan bulan pertama sesudah lahir.
Jadi zat besi, erat berkaitan dengan anemia atau kekurangan sel darah sebagai adaptasi adanya perubahan fisiologi selama kehamilan yang disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan janin (Maulana 2007).
Zat besi yang tersedia dalam makanan berkisar dari 0,9 hingga 1,8 mg/hari dan ketersediaan ini bergantung pada kecukupan dietnya. Karena itu pemenuhan kebutuhan pada kehamilan
memperlihatkan mobilisasi simpanan zat besi dan peningkatan absorpsi zat besi (Sue jordan, 2004).

Peningkatan absorpsi zat besi dapat menambah intensitas efek samping yang dialami pasien (Smith, 1997).
Suplemen oral zat besi dapat menyebabkan mual, muntah, kram lambung, nyeri ulu hati, dan konstipasi atau kadang-kadang diare (efek samping gastrointestinal).
Namun derajat mual yang ditimbulkan oleh setiap preparat tergantung pada jumlah elemen zat besi yang diserap. Takaran zat besi diatas 60 mg dapat menimbulkan efek samping yang tidak biasa diterima pada ibu hamil sehingga terjadi ketidakpatuhan dalam pemakaian obat.Tablet zat besi dengan dosis rendah lebih cenderung ditoleransi dan diminum daripada dosis tinggi. Jika mungkin, terapi mulai dengan dosis rendah, khususnya bila ibu hamil mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kemungkinan timbulnya gejala gastrointestinal. Bagi banyak wanita, pemberian dengan dosis rendah sudah memadai.

Untuk mengurangi efek samping sebaiknya tablet tambah darah di minum setelah makan malam atau menjelang tidur. Akan tetapi lebih baik bila setelah minum tablet tambah darah disertai makan buah-buahan seperti pisang ambon (Saifuddin, 2007).

Pemberian tablet zat besi selama kehamilan merupakan salah satu cara yang paling cocok bagi ibu hamil untuk meningkatkan kadar HB sampai tahap yang diinginkan, karena sangat efektif dimana satu tablet mengandung 60mg Fe. Setiap tablet setara dengan 200mg ferrosulfat.
Selama kehamilan minimal diberikan 90tablet dari umur kehamilan 28 minggu sampai 42 minggu (trimester ketiga). Setelah melahirkan diberikan sejak pemeriksaan ibu hamil pertama.
Cara pemberian tablet zat besi yaitu :
a.   Pemberian tablet zat besi lebih bisa ditoleransi jika dilakukan pada saat sebelum tidur malam.
b.   Pemberian zat besi harus dibagi serta dilakukan dengan interval sedikitnya 6-8 jam dan kemudian interval ini ditingkatkan hingga 12 atau 24 jam jika timbul efek samping.
c.   Muntah dankram perut merupakan efek samping dan sekaligus tanda dini toksitasi zat besi, keduanya ini menunjukan perlu mengubah (menurunkan) dosis zat besi dengan segera.
d.   Minum tablet zat besi pada saat makan atau segera sesudah makan dapat mengurangi gejala mual yang menyertainya tetapi juga akan menurunkan jumlah zat besi yang diabsorbsi.


Kepatuhan berasal dari kata dasar patuh yang berarti taat. Kepatuhan adalah tingkat pasien melaksanakan cara pengobatan dan prilaku yang disarankan oleh dokter atau oleh orang lain (Arisman, 2004).
Menurut Sudarwati (1998), tingkat kepatuhan adalah pengukuran pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan langkah- langkah yang telah ditetapkan.Perhitungantingkat kepatuhan dapat di kontrol bahwa pelaksana program telah melaksanakan kegiatan sesuai standar.


Definisi kepatuhan dalam mengkonsumsi tablet zat besi adalah ketaatan ibu hamil melaksanakan anjuran petugas kesehatan untuk mengkonsusmsi tablet zat besi. Kepatuhan menurut Sackett pada pasien sebagai "Sejauh mana perilaku individu sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh profesional kesehatan”(Afnita, 2004).
Kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi diukur dari ketepatan jumlah tablet yang dikonsumsi, ketepatan cara mengkonsumsi tablet zat besi dan frekuensi konsumsi perhari.
Kepatuhan sulit diukur karena tergantung pada banyak faktor, diantaranya adalah pasien sering kali tidak mengakui bahwa
mereka tidak dilakukan apa yang dianjurkan dokter. Untuk itu diperlukan pendekatan yang baik dengan pasien agar dapat mengetahui kepatuhan mereka dalam melaksanakan pengobatan (Afnita, 2004).
Menurut WHO (2001) manfaat dan kepatuhan ibu hamil mengkonsumsi tablet zat besi yaitu :
a.   Bisa mencegah anemia defesiensi besi
Karena pada wanita hamil cenderung mengalami defesiensi baik zat besi maupun folat. Oleh karena itu penting sekali bagi ibu hamil untuk meminum tablet zat besi setiap hari.
b.   Bahaya selama kehamilan, persalinan dan nifas dapat dihindari.
Menurut Smet (1994), beberapa sebab rendahnya kepatuhan ibu hamil meminum tablet zat besi antara lain karena faktor program dan faktor individu yang meliputi:
1)  Individu tidak merasa dirinya sakit
2)  Ketidaktahuan akan gejala atau tanda-tanda dan dampak yang ditimbulkan.
3)  Kelainan ibu hamil atau rendahnya motivasi ibu hamil dalam tabletzat besi setiap hari sampai waktu yang cukup lama.
4)   Adanya efek samping gastrointestinal seperti mual, rasa nyeri lambung.
5)   Kurang diterimanya warna, rasa dan beberapa karateristik laindari suplemen besi.
6)   Rasa takut terhadap anggapan bahwa suplemen besidapat memperbesar janin dan akan menyulitkan dalam persalinan.
 
Menurut WHO (2001) dampak dari ketidakpatuhan ibu hamil mengkonsumsi tablet zat besi yaitu :
a.   Bisa terjadi anemia defisiensi besi
b.   Meningkatkan bahaya kehamilan, persalinandan nifas yaitu mengakibatkan abortus, partus prematurus, perdarahan postpartum, infeksi intrapartum maupun postpartum.
Menurut Dinicola dan Dimatteo (1984) yang dikutip Niven (2002) cara meningkatkan kepatuhan diantaranya melalui perilaku sehat dan pengontrolan perilaku dengan faktor kognitif, dukungan sosial dalam bentuk dukungan emosional dari anggota keluarga yang lain, teman, waktu dan uang merupakan faktor yang penting dalam kepatuhan dalam program-program medis dan dukungan dari profesional kesehatan.
Menurut Never (2002) cara-cara untuk meningkatkan
kepatuhan ibu hamil untuk mengkonsumsi tablet zat besi yaitu :
a.   Memberikan informasi tujuan dari pemberian tablet zat besi. seorang ibu hamil akan dengan senang hati meminum tablet zat besi setiap hari apabila dia tahu manfaat dan tujuan dari tablet zat besi.Perilaku sehat ibu hamil yang menyadari pentingnya untuk mengkonsumsi tablet zat besi setiap hari.
b.  Tenaga kesehatan memberikan petunjuk cara meminum tablet zat besi.
c.   Motivasi dari keluarga ibu hamil agar patuh meminum tablet zat besi setiap hari.
d.   Dukungan dari tenaga kesehatan dengan menjalin komunikasi yang baik dan memberikan penghargaan yang positif bagi ibu hamil yang telah mampu meminum tablet zat besi setiap hari.


Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan (Depdiknas, 2005). Dari pandangan biologis perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktifitas organisme yang bersangkutan (Notoatmodjo,2007)
Perilaku manusia sangat kompleks dan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas. Blomm (1908) seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku dalam tiga domain yaitu terdiri dari domain kognitif, domain afektif dan domain psikomotorik. Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan dan untuk pengukuran hasil maka domain diukur dari pengetahuan, sikap dan tindakan (Notoatmodjo, 2007).

Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan adalah merupakan hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Bart (1994) dapat dikatakan bahwa perilaku yang dilakukan atas dasar pengetahuan akan lebih bertahan dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Jadi pengetahuan sangat dibutuhkan agar masyarakat dapat mengetahui mengapa mereka harus melakukan suatu tindakan sehingga perilaku masyarakat dapat lebih mudah untuk diubah kearah yang lebih baik.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara yang menanyakan sesuatu yang ingin diukur tentang pengetahuan dari subjek penelitian (Notoatmodjo, 2003). Untuk mengukur pengetahuan ibu hamil tentang zat besi maka perlu diketahui pengertiannya tentang kehamilan, manfaat dari sumber zat besi, akibat kekurangan zat besi, suplementasi zat besi serta cara mengkonsumsinya.
Menurut Notoatmodjo (2007), bahwa keilmuan tentang pengetahuan dibagi menjadi 2 yaitu :
a.   Pengetahuan secara formal
Pengetahuan yang didasarkan pada jenjang pendidikan rendah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan didapat dari ilmu pengetahuan melalui tingkat pembelajaran tersebut terdiri dari TK, SD, SMP, SMU dan Perguruan Tinggi.
b.   Pengetahuan secara informal
Pengetahuan informal adalah pengetahuan yang didapat dari luar lingkup pendidikan. Pengetahuan informal didapat melalui media elektronik (TV, radio atau alat elektronik lainnya) dan media masa (koran, majalah atau buku-buku pelajaran) maupun dari orang lain yang memberikan informasi tentang pengetahuan.
 Menurut Notoatmodjo (2007) faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan :
1)  Tingkat Pendidikan
Adalah upaya untuk memberikan pengetahuan sehingga terjadi perubahan prilaku positif yang meningkat.
2)   Informasi
Seseorang mendapatkan informasi yang lebih banyak akan menambah pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat non formal.
3)  Pengalaman
Sesuatu yang pernah dilakukan seseorang dapat menambah pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat non formal.
4)   Budaya
Tingkah laku manusia atau kelompok manusia dalam memenuhi kebutuhan yang meliputi sikap dan kepercayaan.
5)  Sosial Ekonomi
Tingkat kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan.
Pada kenyataannya tidak semua ibu hamil yang mendapat tablet zat besi meminumnya secara rutin.Hal ini dapat disebabkan karena faktor ketidaktahuan pentingnya tablet zat besi untuk kehamilannya. Dampak yang diakibatkan minum tablet zat besi dan penyerapan/respon tubuh terhadap tablet zat besi kurang baik sehingga tidak terjadi peningkatan hemoglobin sesuai dengan yang diharapkan.

Sikap adalah reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek Notoatmodjo (2003). Dengan perkataan bahwa sikap adalah tanggapan atau persepsi
seseorang terhadap apa yang diketahuinya. Jadi sikap tidak dapat langsung dilihat secara nyata, tetapi hanya dapat ditafsirkan sebagai perilaku yang tertutup. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, tetapi merupakan predisposisi tindakan.
Allport (1954), seperti yang dikutip dari Notoatmodjo (2003), menjelaskan bahwa sikap terdiri atas 3 komponen pokok yaitu:
a.   Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek
b.   Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek
c.   Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave).
 Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini pengetahuan berpikir, keyakinan dan emosi memegang peranan penting.
Sikap merupakan suatu reaksi yang masih tertutup, tidak dapat dilihat secara langsung sehingga sikap hanya dapat ditafsirkan dari perilaku yang nampak. Pengertian lain sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek dengan cara tertentu serta merupakansuatu respon evaluatif terhadap pengalaman kognisi, reaksi, afeksi, kehendak dan perilaku berikutnya. Jadi sikap merupakan suatu respon evaluatif didasarkan pada evaluasi diri, yang disimpulkan berupa penilaian positif dan negatif yang kemudian mengkristal sebagai potensireaksi terhadap suatu obyek. Sikap adalah keadaan mental dan syaraf dari kesiapan, yangdiatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh yang dinamik dan terarah terhadap respon individu pada semua obyek dan situasi yang berkaitan dengannya.
Menurut tingkatnya sikap terdiri atassebagaiberikut:
a.  Menerima
Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek).
b.  Merespon
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan, itu menunjukkan sikap terhadap ide yang diterima. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, lepas dari benar atau salah, berarti orang menerima ide tersebut.
c.  Mengkaji
Mengajak orang lain untuk ikut mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.
d.   Bertanggung jawab.
Mau bertanggung jawab atas suatu yang sudah dipilih dengan segala resikonya. Ini merupakan sikap yang paling tinggi.Pengukuran sikap secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu masalah.
Decision theory (Janis, 1985, dikutip dari Bart, 1994), mengganggap bahwa seorang pasien yang menggambil keputusan. Hal ini juga tercermin dalam conflict theory dari Janis dan Mann (1997) yang dikutip dari Bart (1994), bahwa pasien yang harus memutuskan apakah mereka akan melakukan suatu tindakan medis dan oleh petugas kesehatan memberi tahu mengenai prosedur, risiko dan efektifitas obat agar mereka bisa mengambil keputusan yang tepat.
Suatu contoh sikap adalah sering ibu yang dalam masa kehamilannya mendengarkan bahwa akibat anemia atau kurang darah selama kehamilan adalah keguguran, kematian bayi, berat badan lahir rendah dan bahkan kematian ibu.Pengetahuan ini akan membawa ibu untuk berpikir dan berusaha supaya dia tidak menderita anemia selama kehamilan. Dalam berpikir ini komponen emosi dan keyakinan ikut bekerja sehingga ibu berniat untuk mengkonsumsi tablet zat besi selama masa kehamilan agar tidak menderita anemia. Akhirnya dapat dikatakan bahwa ibu tersebut mempunyai sikap positif terhadap objek yang berupa anemia.

Dasar-dasar dari teori perilaku terencana Ajzen dalam Azswar, praktek dipengaruhi kehendak, sedangkan kehendak dipengaruhi oleh sikap dan norma subyektif. Sikap sendiri dipengaruhi oleh keyakinan akan hasil dari tindakan yang telah lalu.
Norma subyektif dipengaruhi oleh keyakinan akan pendapat orang lain serta motivasi untuk mentaati terhadap pendapat tersebut.
Tindakan adalah realisasi dari pengetahuan dan sikap menjadi suatu perbuatan nyata. Tindakan juga merupakan respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk nyata atau terbuka (Notoatmodjo, 2003).
Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek (practice), yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain. Oleh karena itu disebut juga over behavior.
Empat tingkatan tindakan adalah:
1.   Persepsi (Perception)
Mengenal dan memiliki berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang diambil.
2.   ResponTerpimpin (Guided Response)
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar.
3.   Mekanisme (Mechanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau sesuatu itu merupakan kebiasaan.
4.   Adaptasi (Adaptation)
Adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik, artinya tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.
Perilaku dalam bentuk tindakan (praktek) yang sudah konkrit, berupa perbuatan terhadap situasi atau rangsangan dari luar. Praktek tersebut tercermin dari perhatian akan pentingnya kebutuhan ibu hamil terhadap zat besi bagi kehamilannya. Atas dasar tersebut makan ibu hamil akan mengkonsumsi tablet zat besi.

BAB III
KERANGKA KONSEP

A. Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti
Kehamilan merupakan periode emas bagi ibu dan janin sekaligus sebagai periode yang sangat rentan terhadap berbagai penyakit. Masa kehamilan jika ditangani secara baik maka akan menghasilkan generasi penerus yang tumbuh secara optimal sehingga kecukupan mineral, protein dan asam folatwajib dipenuhi. Kekurangan salah satu mineral misalnya zat besi akan berpengaruh besar bagi kehamilan.
Dampak kekurangan zat besi pada wanita hamil dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius bagi ibu baik dalam kehamilan, persalinan dan nifas yaitu dapat mengakibatkan abortus, partus prematurus, partus lama karena inertia uteri, perdarahan post partum karena atonia uteri, syok, infeksi intra partum maupun post partum (Manuaba, 2001).
Kebutuhan zat besi ibu selama kehamilan adalah 800 mg besi diantaranya 300 mg untuk janin plasenta dan 500 mg untuk pertambahan eritrosit ibu, untuk itulah ibu hamil membutuhkan 2-3 mg zat besi tiap hari.
Selama kehamilan minimal diberikan 90tablet dari umur kehamilan 28 minggu sampai 42 minggu (trimester ketiga). Kebutuhan
ibu akan zat besi akan tercukupi jika ibu patuh terhadap anjuran yang diberikan oleh petugas kesehatan.
Pada kenyataannya tidak semua ibu hamil yang mendapat tablet zat besi meminumnya secara rutin.Hal ini dapat disebabkan karena faktor ketidaktahuan pentingnya tablet zat besi untuk kehamilannya. Mereka sering mendengar pentingnya mengkonsumsi zat besi selama hamil namun ibu hamil belum memiliki keyakinan akan hal tersebut sehingga walaupun sudah dianjurkan oleh bidan tetapi ibu hamil trimester III (tiga) kurang melaksanakannya.Kepatuhan ibu didasari oleh perilaku yang baik.
Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan (Depdiknas, 2005). Perilaku sehat adalah tindakan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Perilaku dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan. Pada ibu hamil perilaku ini akan tercermin dari seberapa besar pengetahuan ibu akan manfaat zat besi bagi perkembangan kehamilannya. Dari pengetahuan yang baik akan menghasilkan sikap yang muncul dari kesadaran akan pentingnya manfaat zat besi sehingga terwujud dalam tindakan ibu untuk mengkonsumsi zat besi sesuai dosis yang sudah ditetapkan demi memenuhi kebutuhan ibu dan janin.





Text Box: B. KERANGKA KONSEP

Keterangan :
: variabel dependen : variabel independen      : variabel yang diteliti
Gambar I. Kerangka Konsep

Pada bagian ini akan diraikan mengenai defenisi/batasan operasional dan kriteria objektif yang diteliti:
Pengetahuan :segala sesuatu yang diketahui oleh responden dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang kehamilan, manfaat zat besi, akibat kekurangan zat besi, suplementasi zat besi, cara mengkonsumsi zat besi dan efek samping mengkonsumsi zat besi.
Kriteria objektif:
Cukup : apabila responden menjawab dengan benar > 50% dari 15 pertanyaan yang diberi skor.
Kurang : apabila responden menjawab dengan benar < 50% dari 15 pertanyaan yang diberi skor.
Skala : ordinal
Sikap : Merupakan kecenderungan untuk berpikir atau reaksi responden yang menganggap seberapa penting/manfaat mengkonsumsi tablet zat besi bagi kehamilannya, sejauh mana keyakinan ibu sehingga berniat untuk mengkonsumsi tablet zat besi.
Kriteria objektif:
Baik             : apabila responden menjawab dengan benar > 60%
dari 10 pertanyaan yang diberi skor.
Kurang baik : apabila responden menjawab dengan benar < 60% dari 10 pertanyaan yang diberi skor.
Skala                   : ordinal

Tindakan : Merupakan tindakan nyata responden dalam mengkonsumsi tablet zat besi, berapa kali ibu mengkonsumsi zat besi dalam sehari.
Kriteria objektif:
Baik                     : apabila responden menjawab dengan benar > 50%
dari 10 pertanyaan yang diberi skor.
Kurang baik : apabila responden menjawab dengan benar < 50% dari 10 pertanyaan yang diberi skor.
Skala                   : ordinal
4.   Kepatuhan ibu hamil mengkonsumsi tablet zat besi Kepatuhan ibu hamil : ketaatan ibu hamil trimester III (tiga) dalam
mengonsumsi tablet zat besi, ketepatan jumlah tablet yang dikonsumsi, ketepatan cara mengkonsumsi tablet zat besi dan frekuensi konsumsi perhari.
Kriteria objektif:
Patuh                   : apabila responden mengkonsumsi> 60 tablet zat
besi yang mengandung 60mg Fe dan 1,25 mg asam folat.
Tidak patuh : apabila responden mengkonsumsi < 60 tabletzat besi yang mengandung 60mg Fe dan 1,25 mg asam folat.

BAB IV
METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif, yaitu untuk mendeskripsikan/menggambarkan perilaku ibu hamil Trimester III terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota BaubauTahun 2012.
Lokasi penelitianini dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau karena lokasi tersebut mudah dijangkau dan lebih menghemat biaya serta sampel untuk penelitian ini mencukupi di daerah tersebut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Maret 2012.
1.   Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah semua ibu hamil trimester III di Wilayah Kerja Puskesmas LowulowuKecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012 dengan jumlah populasi 30 orang.
2.      Sampel
Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan Totalsampling dimana semua ibu hamil trimester III diteliti dengan jumlah 30 orang.
1.  Jenis data
Data primer adalah data yang diperoleh melalui pengisian kuesioner. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari rekam medik Puskesmas Lowulowu bagian KIA.
2.   Instrumen penelitian
Instrumen yang dipergunakan pada penelitian ini adalah kuisioner mengenai gambaran perilaku ibu hamil trimester III terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi.
Dalam pengolahan dan analisis data penulis menggunakan program Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 18,0
Penyajian data disajikan secara deskriptif dalam bentuk tabel distribusi frekuensi disertai dengan penjelasan-penjelasan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1.  Letak geografis
Puskesmas Lowulowu merupakan puskesmas yang terletak di Kecamatan Lealea dengan wilayah kerja terdiri dari 5 (lima) kelurahan, yaitu ;
a.
Kelurahan Lowulowu
b.
Kelurahan Kalialia
c.
Kelurahan Kolese
d.
Kelurahan Kantalai
e.
Kelurahan Palabusa

Batas wilayah operasional Puskesmas Lowulowu sebagai
berikut i
a.       Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Buton.
b.      Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Bungi.
c.       Sebelah Selatan berbatasan dengan Selat Buton.
d.       Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Buton.
2.   Luas wilayah
Luas wilayah kerja Puskesmas Lowulowu atau luas wilayah Kecamatan Lealea adalah 28, 93 km2, dengan kepadatan penduduk 251, B jiwa/km2

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Lowulowu dengan cara mengumpulkan data primer dan data sekunder dari 30 ibu hamil trimester III yang mengkonsumsi tablet zat besi, hasil penelitian yang telah dilakukan disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:

Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Umur Ibu Hamil Trimester III terhadap Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Zat Besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012
Umur
Jumlah sampel (n)
Presentase (%)
20-25 tahun
18
60
26-30 tahun
4
13,33
31-35 tahun
6
20
36-40 tahun
2
6,67
Jumlah
30
100
Sumber : data primer peneliti bulan Februari tahun 2012


Berdasarkan tabel 5.1 menunjukkan bahwa dari 30 responden ibu hamil trimester III, mayoritas berumur 20-25 tahun sebanyak 18 orang (60%) dan yang minoritas berumur 36-40 tahun sebanyak 2 orang (6,67%).

Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Pendidikan Ibu Hamil Trimester III terhadap Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Zat Besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012
Pendidikan
Jumlah sampel (n)
Presentase (%)
Tidak sekolah
1
3,33
SD
2
6,67
SMP
7
23,33
SMA/SMK
16
53,33
Perguruan tinggi
4
13,33
Jumlah
30
100
Sumber : data primer peneliti bulan Februari tahun 2012


Tabel 5.2 menunjukkan bahwa dari 30 orang responden ibu hamil trimester III, yang paling banyak berpendidikan SMA/SMK 16 orang (53,33%) dan 1 orang (3,33%) tidak sekolah.

Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Pekerjaan Ibu Hamil Trimester III terhadap Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Zat Besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012
Pekerjaan
Jumlah sampel (n)
Presentase (%)
Guru tidak tetap
1
3,33
IRT
28
93,33
PNS
1
3,33
Jumlah
30
100
Sumber : data primer peneliti bulan Februaritahun 2012


Tabel 5.2 menunjukkan bahwa dari 30 orang responden ibu hamil trimester III, sebagian besar yaitu 28 orang (93,33%) bekerja sebagai ibu rumah tangga (IRT).

Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu Hamil Trimester III terhadap Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Zat Besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012
Pengetahuan
Jumlah sampel (n)
Presentase (%)
Baik
15
50
Kurang Baik
15
50
Jumlah
30
100
Sumber : data primer peneliti bulan Februari Tahun 2012


Tabel 5.4 menunjukkan bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik dan responden yang memiliki pengetahuan kurang baik seimbang.

Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Sikap Ibu Hamil Trimester III terhadap Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Zat Besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012
Sikap
Jumlah sampel (n)
Presentase (%)
Baik
13
43,33
Kurang Baik
17
56,67
Jumlah
30
100
Sumber : data primer peneliti bulan Februari Tahun 2012


Tabel 5.5 menunjukkan bahwa dari 30 responden ibu hamil trimester III terdapat 13 orang (43,33%) memiliki sikap yang baik tentang mengkonsumsi tablet zat besi dan 17 orang (56,67%) memiliki sikap kurang baik tentang mengkonsumsi tablet zat besi.

Tabel 5.6
Distribusi Frekuensi Tindakan Ibu Hamil Trimester III terhadap Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Zat Besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012
Tindakan
Jumlah sampel (n)
Presentase (%)
Baik
12
40
Kurang Baik
18
60
Jumlah
30
100
Sumber : data primer peneliti bulan FebruariTahun 2012


Berdasarkan Tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 18 orang (60%) ibu hamil trimester III memiliki tindakan yang kurang baik dalam mengkonsumsi tablet zat besi selama kehamilan.


Tabel 5.7
Distribusi Frekuensi Kepatuhan Ibu Hamil Trimester III Mengkonsumsi Tablet Zat Besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012
Kepatuhan
Jumlah sampel (n)
Presentase (%)
Patuh
12
40
Tidak patuh
18
60
Jumlah
30
100
Sumber : data primer peneliti bulan Februari Tahun 2012


Tabel 5.7 menunjukkan bahwa dari 30 orang responden ibu hamil trimester III, sebagian besar yaitu 18 orang atau 60% responden tidak patuh dalam mengkonsumsi tablet zat besi.


PENUTUP

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Lowulowu memilki pengetahuan yang seimbang yaitu 15 orang (50%) memiliki pengetahuan baik dan 15 orang (50%) memiliki pengetahuan kurang baik tentang pentingnya mengkonsumsi tablet zat besi.
2.      Ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Lowulowu memilki sikap yang kurang baik yaitu dari 30 responden terdapat 17 orang atau 56,67% yang memiliki sikap kurang baik tentang mengkonsumsi tablet zat besi.
3.      Ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Lowulowu memilki tindakan atau praktik kurang baik yaitu dari 30 responden terdapat 18 orang atau 60% memiliki praktik kurang baik dalam mengkonsumsi tablet zat besi.


Sejalan dengan hasil penelitian yang telah dikemukakan dalam uraian sebelumnya, ada beberapa saran yang penulis ingin sampaikan, yaitu :
1.    Mengingat pentingnya zat besi bagi ibu hamil maka diharapkan kepada pihak Puskesmas Lowulowu untuk memberikan sosialisasi guna peningkatan pengetahuan ibu hamil diwilayah kerjanya.
2.     Diharapkan bidan dan keluarga untuk bersama-sama memberikan motivasi dan dukungan kepada ibu hamil trimester III agar menyadari pentingnya mengkonsumsi tablet zat besi bagi ibu dan janin.
3.     Hendaknya ibu hamil memperhatikan keteraturan dan memiliki pengawas dalam mengkonsumsi tablet zat besi agar tepat waktu dan tepat jumlahnya.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, 1998, Prosedur Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta.
Arisman, MB., 2004, Gizi dalam Daur Kehidupan, EGC, Jakarta.
Damaeyer EM., 1993, Pencegahan dan Pengawasan Anemia Defisiensi Besi (alih bahasa Arisman M.B) Cetakan 1, Widya Medika,Jakarta.
Departemen Kesehatan R.I. Ditjen Kesehatan Masyarakat. 2002, Pedoman Pemberian Besi bagi Petugas, Departemen Kesehatan, Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. 2003, Program Penanggulangan Anemia, Departemen Kesehatan, Jakarta.
Francin, Erna., 2004, Gizi dalam Kesehatan Reproduksi, EGC, Jakarta.
Imron TH, Moch., 2010, Metodologi Penelitian Bidang Kesehatan, Sagung Seto, Jakarta.
Kusmiyati, Yuni., 2008, Perawatan Ibu Hamil, Fitramaya, Yogyakarta.
Manuaba, IBG, 1998, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan, EGC, Jakarta.
Marpaung, Sri Juani., 2009, Gambaran Pengetahuan Ibu Terhadap Pemberian Tablet Zat Besi Pada Ibu Hamil DiKlinik Kasih Ibu Desa Durian Kec.Delitua Tahun 2009, Stikes Deli Husada Deli Tua, http://yasir.blogspot.com, diakses tanggal 14 Januari 2012.
Notoatmojodjo, Soekidjo., 2007, Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta.
Notoatmojodjo, Soekidjo., 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.
Oppusunggu, Riris., 2009, Pengaruh Pemberian Tablet Tambah Darah (Fe) terhadap Produktivitas Kerja Wanita Pensortir Daun Tembakau di PT X Kabupaten Deli Serdang, Medan, Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, diakses tanggal 4 Februari 2012.
Prawirohardjo, Sarwono., 2007, Ilmu Kebidanan, YBP-SP, Jakarta.
Profil Kesehatan Puskesmas Lowulowu Tahun 2011
Purwaningsih, Marlia., 2006, Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketidakpatuhan Ibu Hamil Mengkonsumsi Tablet Besi, Fakultas Kesehatan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Diakses tanggal 14 Januari 2012.
Safuddin AB., 2002, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan dan Maternal,Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta.
Sugiono, 2005, Metode Penelitian Administrasi, Alfabeta, Bandung.
Winkjosastro, Hanifa., 2007, Ilmu Kandungan, YBP-SP, Jakarta.
Wipayani, NMR., 2008, Hubungan Pengetahuan tentang Anemia dengan Kepatuhan Ibu Hamil Meminum Tablet Zat Besi di Desa Langensari Kecamatan Unggaran kabupaten Semarang, STIKES Ngundi Waluyo, Semarang, diakses tanggal 23 Januari 2012.