KOTA BAUBAU TAHUN LOWULOWU 2012
![]() |
KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan
Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Program
Studi
Diploma III Kebidanan
Oleh
:
MINARTI
AK.
090139
AKADEMI KEBIDANAN YAYASAN KESEHATAN NASIONAL
KOTA BAUBAU 2012
ABSTRAK
Minarti,
“Gambaran Perilaku Ibu Hamil Trimester III terhadap Kepatuhan Mengkonsumsi
Tablet Zat Besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota
Baubau Tahun 2012”, dibawah bimbingan Ibu Risnawati dan Bapak Sudirman.
6 Bab, 45 Halaman, 7 Tabel, 1 Gambar, 5 Lampiran
Zat besi adalah salah satu mineral
penting yang diperlukan selama kehamilan dengan jumlah sekitar 45-60 mg sehari.
Kebutuhan ini dapat terpenuhi dengan mengkonsumsi makanan yg mengandung zat
besi dan suplemen zat besi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui gambaran pengetahuan, sikap dan tindakan ibu hamil trimester III
terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi di Wilayah Kerja Puskesmas
Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012. Jenis penelitian deskriptif
dengan jumlah sampel 30 orang dan teknik pengambilan sampel dengan cara totalsampling. Penelitian ini dilakukan sejak bulan
Februari sampai Maret 2012.Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Data diolah
menggunakan SPSS 18,0 dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi
dilengkapi dengan penjelasan-penjelasan.
Hasil penelitian diproleh bahwa dari
30 responden ibu hamil trimester III terdapat 15 orang (50%) berpengetahuan
baik dan 15 orang (15%) berpengetahuan kurang baik, 13 orang (43,33%) memiliki
sikap baik dan 17 orang (56,67%) memiliki sikap kurang baik , 12 orang (40%)
memiliki tindakan yang baik dan 18 orang (60%) yang memiliki tindakan kurang
baik serta 12 orang (40%) patuh mengkonsumsi tablet zat besi dan 18 orang (60%)
tidak patuh mengkonsumsi tablet zat besi.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa ibu
hamil trimester III memiliki kepatuhan yang kurang baik dalam mengkonsumsi
tablet zat besi. Oleh karena itu, diharapkan kepada pihak Puskesmas Lowulowu
khususnya bidan untuk memberikan informasi dan motivasi kepada ibu hamil agar
patuh mengkonsumsi tablet zat besi.
Kata kunci : Pengetahuan, sikap,
tindakan, kepatuhan
Daftar pustaka : 20 Literatur
PENDAHULUAN
Pembangunan kesehatan masyarakat di
Indonesia pada hakekatnya untuk meningkatkan angka harapan hidup, meningkatkan
kualitas sumber daya manusia serta kualitas kehidupan guna meningkatkan
kesejahteraan keluarga agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang
optimal (Depkes RI Tahun 2009).
Kesehatan merupakan salah satu
kebutuhan dasar manusia, sehingga perlu senantiasa diusahakan agar setiap
penduduk makin menyadari pentingnya kesehatan bagi dirinya sendiri dan
lingkungannya, serta makin mampu untuk berprilaku hidup sehat. Untuk mencapai
hal tersebut memerlukan usaha perbaikan dan peningkatan gizi masyarakat
merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas hidup dan produktifitas.
Saat ini masih terdapat empat masalah gizi yang merupakan masalah kesehatan
nasional yaitu Gangguan Akibat Kekurangan lodium (GAKI), anemia gizi,
kekurangan vitamin A dan kekurangan energi protein.
Berbagai kajian ilmiah menunjukan
bahwa penderita gizi buruk juga menderita kekurangan zat besi yang berdampak
negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Tetapi anemia yang
memprihatinkan adalah anemia yang terjadi pada ibu hamil dan balita karena
merupakan kelompok yang memiliki masa emas sekaligus masa
kritis. Maksudnya ibu yang mengandung
sangat memerlukan mineral, protein dan juga asam folat.
Anemia pada kehamilan merupakan
masalah yang umum karena mencerminkan nilai kesejahteraan sosial ekonomi
masyarakat dan pengaruhnya sangat besar terhadap kualitas sumber daya manusia.
Anemia hamil disebut ’’Potensial danger of mother
and child’ (potensial membahayakan ibu dan anak), karena itulah anemia
memerlukan perhatian serius dari semua pihak yang terkait dalam pelayanan
kesehatan pada hari depan (Manuaba, 1998).
Menurut WHO penyebab kematian ibu
berasal dari perdarahan 35%, infeksi 25%, gestosis 17%, abortus 10% dan
lain-lain 10%. Sebanyak 4% kematian para ibu di negara yang sedang berkembang
berkaitan dengan anemia dalam kehamilan. Kebanyakan anemia disebabkan oleh
definisi besi dan perdarahan akut, bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi
(Sarwono, 2007).
Dalam mengatasi masalah anemia pada
ibu hamil Dinas Kesehatan Kota Baubau mempunyai program suplementasi tablet
tambah darah yang bisa didapatkan di masing-masing puskesmas. Tablet tambah
darah dapat menghindari anemia besi dan anemia asam folat. Pada ibu hamil
dianjurkan untuk mengkonsumsi tablet zat besi minimal 90 tablet selama hamil.
Pada beberapa ibu hamil, zat besi yang terkandung dalam vitamin kehamilan bisa
menyebabkan sembelit atau diare serta pusing-pusing.
Berdasarkan data Puskesmas Lowulowu
tahun 2011 ada 140 ibu hamil yang memperoleh tablet zat besi, namun 136 yang
mengatakan tidak rutin meminum tablet zat besi.
Kebutuhan zat besi ibu selama
kehamilan adalah 800 mg besi diantaranya 300 mg untuk janin plasenta dan 500 mg
untuk pertambahan eritrosit ibu, untuk itulah ibu hamil membutuhkan 2-3 mg zat
besi tiap hari (Manuaba, 1998).
Di Puskesmas Lowulowu, ibu hamil
selalu diberikan tablet zat besi setiap melakukan pemeriksaan kehamilan.
Berdasarkan data dari bagian KIA Puskesmas Lowulowu Tahun 2012 dari 30 ibu
hamil trimester III yang telah memperoleh tablet tambah darah. Sebagian besar
dari mereka sudah mengetahui pentingnya mengkonsumsi tablet zat besi namun
terjadi ketidakpatuhan ibu hamil untuk mengkonsumsi tablet zat besi.
Secara umum, ketidakpatuhan dapat
menyebabkan meningkatnya resiko berkembangnya masalah kesehatan atau
memperpanjang atau memperburuk kesakitan yang sedang diderita. Perkiraan yang
ada menyatakan bahwa 20% opname di rumah sakit merupakan akibat dari ketidakpatuhan
pasien terhadap aturan pengobatan. Ketidakpatuhan ibu hamil meminum tablet zat
besi dapat mencerminkan seberapa besar peluang untuk terkena anemia
Dari bingkai paradigma inilah peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian mengenai gambaran perilaku ibu hamil
trimester
III (tiga) terhadap kepatuhan
mengkonsumsi tablet zat besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan
Lealea Kota Baubau Tahun 2012.
Berdasarkan uraian
pada latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian
ini adalah :
1.
Bagaimana gambaran pengetahuan ibu hamil trimester III(tiga) terhadap
kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu
Kecamatan Lealea Kota Baubau
Tahun 2012?”
2.
Bagaimana gambaran sikap ibu hamil trimester III(tiga) terhadap
kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu
Kecamatan Lealea Kota Baubau
Tahun 2012?
3.
Bagaimana gambaran tindakan ibu hamil trimester III(tiga) terhadap
kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu
Kecamatan Lealea Kota Baubau
Tahun 2012?
Untuk mengetahui gambaran perilaku ibu
hamil trimester III (tiga) terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi di
Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012.
a.
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil
trimester III (tiga) terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi di Wilayah
Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012.
b.
Untuk mengetahui gambaran sikap ibu hamil
trimester III (tiga) terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi di Wilayah
Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012.
c.
Untuk mengetahui gambaran tindakan ibu hamil
trimester III (tiga) terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi di Wilayah
Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan informasi dan masukan yang berharga bagi peningkatan ilmu pengetahuan
khususx tenaga kesehatan.
Bagi Institusi Akademi Kebidanan
Yayasan Kesehatan Nasional Kota Baubau, penelitian ini diharapkan dapat
memberikan manfaat khususnya dalam memperbanyak referensi mengenai perilaku ibu
hamil terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi dan sebagai acuan bagi
penelitian selanjutnya.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan pengetahuan bagi ibu hamil trimester III tentang fungsi dan manfaat
mengkonsumsi tablet zat besi bagi kehamilannya.
Penelitian ini sangat berguna untuk
menambah pengalaman dan wawasan keilmuan dalam melaksanakan penelitian serta
sebagai salah satu syarat dalam rangka menyelesaikan program Diploma III
Jurusan Kebidanan.
TINJAUAN PUSTAKA
Zat besi adalah salah satu mineral
penting yang diperlukan selama kehamilan, bukan hanya untuk bayi tapi juga
untuk ibu hamil. Bayi akan menyerap dan mengunakan zat besi dengan cepat,
sehingga jika ibu kekurangan masukan zat besi selama hamil, bayi akan mengambil
kebutuhanya dari tubuh ibu sehingga menyebabkan ibu mengalami anemia dan merasa
lelah ( Suririnah, 2008 ).
Zat besi (Fe) merupakan mikro elemen
yang esensial bagi tubuh. Zat ini terutama diperlukan dalam hemopobesis (pembentukan
darah) yaitu dalam syntesa hemoglobin (Hb). Zat besi yang terdapat dalam semua
sel tubuh berperan penting dalam berbagai reaksi biokimia, diantaranya dalam
produksi sel darah merah. Sel ini diperlakukan untuk mengangkat oksigen
keseluruh jaringan tubuh. Sedangkan oksigen penting dalam proses pembentukan
energi agar produktivitas kerja meningkat serta tubuh tidak cepat lelah
(Achmat, 1996).
Seorang ibu yang dalam masa hamilnya
telah menderi kekurangan zat besi tidak dapat memberikan cadangan zat besi
kepada bayinya dalam jumlah yang cukup untuk beberapa bulan pertama. Meskipun
bayi itu mendapat air susu dari ibunya, tetapi
susu bukanlah bahan makanan yang
banyak mangandung zat besi, karena itu diperlukan zat besi untuk mencegah anak
menderita anemia (Moehji, 1992).
Suplementasi tablet zat besi adalah
adalah pemberian zat besi folat yang berbentuk tablet, tiap tablet 60 mg besi
elemental dan 1,25 mg asam folat, yang diberikan oleh pemerintah pada ibu hamil
untuk mengatasi masalah anemia gizi besi (Depkes RI, 2002).
Pemberian suplementasi zat besi
menguntungkan karena dapat memperbaiki status hemoglobin dalam tubuh waktu
relatif singkat. Sampai sekarang cara ini masih merupakan salah satu cara yang
dilakukan pada ibu hamil dan kelompok yang berisiko tinggi lainnya, seperti
anak balita, anak sekolah dan pekerja.
Zat besi berfungsi untuk membentuk sel
darah merah, sementara sel darah merah bertugas mengangkut oksigen dan zat- zat
makanan keseluruh tubuh serta membantu proses metabolisme tubuh untuk
menghasilkan energi. Jika asupan zat besi kedalam tubuh berkurang dengan
sendirinya sel darah merah juga akan berkurang, tubuh pun akan kekurangan
oksigen akibatnya timbullah gejala-gejala anemia.
Zat besi bagi ibu hamil penting untuk
pembentukan dan mempertahankan sel darah merah. Kecukupan sel darah merah akan
menjamin sirkulasi oksigen dan metabolisme zat-zat gizi yang dibutuhkan ibu
hamil. Selain itu, asupun zat besi sejak awal kehamilan cukup baik, maka janin
akan menggunakannya untuk kebutuhan tumbuh kembangnya, sekaligus menyimpan
dalam hati sebagai cadangan sampai usia 6 bulan setelah dilahirkan.
Kekurangan zat besi sejak sebelum
hamil bila tidak diatasi dapat mengakibatkan ibu hamil menderita anemia,
kondisi ini meningkatkan resiko kematian pada saat melahirkan, melahirkan bayi
dengan berat badan lahir rendah, janin dan ibu mudah terkena infeksi dan
keguguran. Selain itu juga zat besi sangat dibutuhkan perkembangan otak bayi
diawal kelahirannya (Junita, 2006).
a.
Lemah, lesu, tidak bergairah.
b.
Mudah pusing dan mata berkunang-kunang.
c.
Gelisah dan mudah pingsan.
d.
Sulit berkonsentrasi dan mudah lupa.
e.
Nafsu makan menurun.
5.
Kebutuhan Zat Besi Pada Ibu Hamil Trimester
III
Wanita memerlukan zat besi lebih
tinggi dari laki-laki karena terjadi menstruasi dengan perdarahan sebanyak 50
sampai 80 cc setiap bulan dan kehilangan zat besi 30 sampai 40 mg. disamping
itu kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah
merah janin dan plasenta. Makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan
melahirkan akan makin banyak kehilangan zat besi dan akan menjadi anemia
(Manuaba, 1998).
Zat besi penting untuk mengkompensasi
peningkatan volume darah yang terjadi selama kehamilan, dan untuk memastikan
pertumbuhan dan perkembagan janin yang adekuat. Kebutuhan zat besi meningkat
selama kehamilan, sering dengan pertumbuhan janin. Ibu hamil dapat memenuhi kebutuhan
zat besinya yang meningkat selama kehamilan dengan meminum tablet tambah darah
(suplementasi tablet zat besi) dan dengan memastikan bahwa ibu hamil makan
dengan cukup dan seimbang (Depkes, 2002).
Sebagai gambaran banyak kebutuhan zat
besi pada kehamilan adalah :
a.
Meningkatkan sel darah ibu 500 mgr Fe
b. Terdapat
dalam plasenta 300
mgr Fe
c.
Untuk darah janin 100 mgr Fe
Jumlah 900 mgr Fe
Jika persalinan cadangan Fe minimal,
maka setiap kehamilan akan mengurus persendian Fe tubuh dan akhirnya
menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya (Francin, 2004).
Untuk mengatasi kehilangan ini, ibu
hamil memerlukan rata- rata 3,5-4 mg zat besi perhari. Kebutuhan ini akan
meningkat secara signifikan dalam trimester terakhir, yaitu dari rata-rata 2,5
mg/hari pada awal kehamilan menjadi 6,6 mg/hari.
Ketika usia kehamilan mencapai 7-9
bulan (trimester III), dibutuhkan vitamin dan mineral untuk mendukung energi
janin didapat dari cadangan energi yang disimpan ibu selama tahap sebelumnya.
Wanita hamil cenderung terkena anemia
pada tiga bulan terakhir kehamilannya. Pada masa ini, janin menimbun cadangan
zat besi untuk dirinya sendiri sebagai persediaan bulan pertama sesudah lahir.
Jadi zat besi, erat berkaitan dengan
anemia atau kekurangan sel darah sebagai adaptasi adanya perubahan fisiologi
selama kehamilan yang disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan zat besi untuk
pertumbuhan janin (Maulana 2007).
Zat besi yang tersedia dalam makanan
berkisar dari 0,9 hingga 1,8 mg/hari dan ketersediaan ini bergantung pada
kecukupan dietnya. Karena itu pemenuhan kebutuhan pada kehamilan
memperlihatkan mobilisasi simpanan zat
besi dan peningkatan absorpsi zat besi (Sue jordan, 2004).
Peningkatan absorpsi zat besi dapat
menambah intensitas efek samping yang dialami pasien (Smith, 1997).
Suplemen oral zat besi dapat
menyebabkan mual, muntah, kram lambung, nyeri ulu hati, dan konstipasi atau
kadang-kadang diare (efek samping gastrointestinal).
Namun derajat mual yang ditimbulkan
oleh setiap preparat tergantung pada jumlah elemen zat besi yang diserap.
Takaran zat besi diatas 60 mg dapat menimbulkan efek samping yang tidak biasa
diterima pada ibu hamil sehingga terjadi ketidakpatuhan dalam pemakaian
obat.Tablet zat besi dengan dosis rendah lebih cenderung ditoleransi dan
diminum daripada dosis tinggi. Jika mungkin, terapi mulai dengan dosis rendah,
khususnya bila ibu hamil mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kemungkinan
timbulnya gejala gastrointestinal. Bagi banyak wanita, pemberian dengan dosis
rendah sudah memadai.
Untuk mengurangi efek samping
sebaiknya tablet tambah darah di minum setelah makan malam atau menjelang
tidur. Akan tetapi lebih baik bila setelah minum tablet tambah darah disertai
makan buah-buahan seperti pisang ambon (Saifuddin, 2007).
Pemberian tablet zat besi selama
kehamilan merupakan salah satu cara yang paling cocok bagi ibu hamil untuk
meningkatkan kadar HB sampai tahap yang diinginkan, karena sangat efektif
dimana satu tablet mengandung 60mg Fe. Setiap tablet setara dengan 200mg
ferrosulfat.
Selama kehamilan minimal diberikan
90tablet dari umur kehamilan 28 minggu sampai 42 minggu (trimester ketiga).
Setelah melahirkan diberikan sejak pemeriksaan ibu hamil pertama.
Cara pemberian tablet zat besi yaitu :
a.
Pemberian tablet zat besi lebih bisa ditoleransi
jika dilakukan pada saat sebelum tidur malam.
b.
Pemberian zat besi harus dibagi serta dilakukan
dengan interval sedikitnya 6-8 jam dan kemudian interval ini ditingkatkan
hingga 12 atau 24 jam jika timbul efek samping.
c.
Muntah dankram perut merupakan efek samping dan
sekaligus tanda dini toksitasi zat besi, keduanya ini menunjukan perlu mengubah
(menurunkan) dosis zat besi dengan segera.
d.
Minum tablet zat besi pada saat makan atau
segera sesudah makan dapat mengurangi gejala mual yang menyertainya tetapi juga
akan menurunkan jumlah zat besi yang diabsorbsi.
Kepatuhan berasal dari kata dasar
patuh yang berarti taat. Kepatuhan adalah tingkat pasien melaksanakan cara
pengobatan dan prilaku yang disarankan oleh dokter atau oleh orang lain
(Arisman, 2004).
Menurut Sudarwati (1998), tingkat
kepatuhan adalah pengukuran pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan langkah-
langkah yang telah ditetapkan.Perhitungantingkat kepatuhan dapat di kontrol
bahwa pelaksana program telah melaksanakan kegiatan sesuai standar.
Definisi kepatuhan dalam mengkonsumsi
tablet zat besi adalah ketaatan ibu hamil melaksanakan anjuran petugas
kesehatan untuk mengkonsusmsi tablet zat besi. Kepatuhan menurut Sackett pada
pasien sebagai "Sejauh mana perilaku individu sesuai dengan ketentuan yang
diberikan oleh profesional kesehatan”(Afnita,
2004).
Kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi
diukur dari ketepatan jumlah tablet yang dikonsumsi, ketepatan cara
mengkonsumsi tablet zat besi dan frekuensi konsumsi perhari.
Kepatuhan sulit diukur karena
tergantung pada banyak faktor, diantaranya adalah pasien sering kali tidak
mengakui bahwa
mereka tidak dilakukan apa yang
dianjurkan dokter. Untuk itu diperlukan pendekatan yang baik dengan pasien agar
dapat mengetahui kepatuhan mereka dalam melaksanakan pengobatan (Afnita, 2004).
Menurut WHO (2001) manfaat dan
kepatuhan ibu hamil mengkonsumsi tablet zat besi yaitu :
a.
Bisa mencegah anemia defesiensi besi
Karena pada wanita hamil cenderung
mengalami defesiensi baik zat besi maupun folat. Oleh karena itu penting sekali
bagi ibu hamil untuk meminum tablet zat besi setiap hari.
b.
Bahaya selama kehamilan, persalinan dan nifas
dapat dihindari.
Menurut Smet (1994), beberapa sebab
rendahnya kepatuhan ibu hamil meminum tablet zat besi antara lain karena faktor
program dan faktor individu yang meliputi:
1)
Individu tidak merasa dirinya sakit
2) Ketidaktahuan
akan gejala atau tanda-tanda dan dampak yang ditimbulkan.
3) Kelainan
ibu hamil atau rendahnya motivasi ibu hamil dalam tabletzat besi setiap hari
sampai waktu yang cukup lama.
4)
Adanya efek samping gastrointestinal seperti
mual, rasa nyeri lambung.
5)
Kurang diterimanya warna, rasa dan beberapa
karateristik laindari suplemen besi.
6)
Rasa takut terhadap anggapan bahwa suplemen
besidapat memperbesar janin dan akan menyulitkan dalam persalinan.
Menurut WHO (2001) dampak dari
ketidakpatuhan ibu hamil mengkonsumsi tablet zat besi yaitu :
a.
Bisa terjadi anemia defisiensi besi
b.
Meningkatkan bahaya kehamilan, persalinandan
nifas yaitu mengakibatkan abortus, partus prematurus, perdarahan postpartum,
infeksi intrapartum maupun postpartum.
Menurut Dinicola dan Dimatteo (1984)
yang dikutip Niven (2002) cara meningkatkan kepatuhan diantaranya melalui
perilaku sehat dan pengontrolan perilaku dengan faktor kognitif, dukungan
sosial dalam bentuk dukungan emosional dari anggota keluarga yang lain, teman,
waktu dan uang merupakan faktor yang penting dalam kepatuhan dalam
program-program medis dan dukungan dari profesional kesehatan.
Menurut Never (2002)
cara-cara untuk meningkatkan
kepatuhan ibu hamil untuk mengkonsumsi
tablet zat besi yaitu :
a.
Memberikan informasi tujuan dari pemberian
tablet zat besi. seorang ibu hamil akan dengan senang hati meminum tablet zat
besi setiap hari apabila dia tahu manfaat dan tujuan dari tablet zat
besi.Perilaku sehat ibu hamil yang menyadari pentingnya untuk mengkonsumsi
tablet zat besi setiap hari.
b.
Tenaga kesehatan memberikan petunjuk cara
meminum tablet zat besi.
c.
Motivasi dari keluarga ibu hamil agar patuh
meminum tablet zat besi setiap hari.
d.
Dukungan dari tenaga kesehatan dengan menjalin
komunikasi yang baik dan memberikan penghargaan yang positif bagi ibu hamil
yang telah mampu meminum tablet zat besi setiap hari.
Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan (Depdiknas,
2005). Dari pandangan biologis perilaku
merupakan suatu
kegiatan atau aktifitas organisme yang
bersangkutan (Notoatmodjo,2007)
Perilaku manusia sangat kompleks dan
mempunyai ruang lingkup yang
sangat luas. Blomm (1908) seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku dalam tiga domain yaitu terdiri dari
domain kognitif, domain afektif dan domain psikomotorik. Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli
pendidikan dan untuk pengukuran hasil maka domain diukur dari pengetahuan,
sikap dan tindakan
(Notoatmodjo, 2007).
Menurut Notoatmodjo (2003),
pengetahuan adalah merupakan hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indera manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman,
rasa dan raba.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan
Bart (1994) dapat dikatakan bahwa perilaku yang dilakukan atas dasar
pengetahuan akan lebih bertahan dari pada perilaku yang tidak didasari oleh
pengetahuan. Jadi pengetahuan sangat dibutuhkan agar masyarakat dapat
mengetahui mengapa mereka harus melakukan suatu tindakan sehingga perilaku
masyarakat dapat lebih mudah untuk diubah kearah yang lebih baik.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan
dengan wawancara yang menanyakan sesuatu yang ingin diukur tentang pengetahuan
dari subjek penelitian (Notoatmodjo, 2003). Untuk mengukur pengetahuan ibu
hamil tentang zat besi maka perlu diketahui
pengertiannya tentang kehamilan, manfaat dari sumber zat besi, akibat
kekurangan zat besi, suplementasi zat besi serta cara mengkonsumsinya.
Menurut Notoatmodjo
(2007), bahwa keilmuan tentang pengetahuan dibagi menjadi 2 yaitu :
a.
Pengetahuan secara formal
Pengetahuan yang didasarkan pada
jenjang pendidikan rendah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan didapat
dari ilmu pengetahuan melalui tingkat pembelajaran tersebut terdiri dari TK,
SD, SMP, SMU dan Perguruan Tinggi.
b.
Pengetahuan secara informal
Pengetahuan informal adalah
pengetahuan yang didapat dari luar lingkup pendidikan. Pengetahuan informal
didapat melalui media elektronik (TV, radio atau alat elektronik lainnya) dan
media masa (koran, majalah atau buku-buku pelajaran) maupun dari orang lain
yang memberikan informasi tentang pengetahuan.
Menurut Notoatmodjo
(2007) faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan :
1) Tingkat
Pendidikan
Adalah upaya untuk memberikan
pengetahuan sehingga terjadi perubahan prilaku positif yang meningkat.
2)
Informasi
Seseorang mendapatkan informasi yang
lebih banyak akan menambah pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat non
formal.
3) Pengalaman
Sesuatu yang pernah dilakukan
seseorang dapat menambah pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat non formal.
4)
Budaya
Tingkah laku manusia atau kelompok
manusia dalam memenuhi kebutuhan yang meliputi sikap dan kepercayaan.
5) Sosial
Ekonomi
Tingkat kemampuan seseorang untuk
memenuhi kebutuhan.
Pada kenyataannya tidak semua ibu
hamil yang mendapat tablet zat besi meminumnya secara rutin.Hal ini dapat
disebabkan karena faktor ketidaktahuan pentingnya tablet zat besi untuk
kehamilannya. Dampak yang diakibatkan minum tablet zat besi dan
penyerapan/respon tubuh terhadap tablet zat besi kurang baik sehingga tidak
terjadi peningkatan hemoglobin sesuai dengan yang diharapkan.
Sikap adalah reaksi atau respon
seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek Notoatmodjo
(2003). Dengan perkataan bahwa sikap adalah tanggapan atau persepsi
seseorang terhadap apa yang
diketahuinya. Jadi sikap tidak dapat langsung dilihat secara nyata, tetapi
hanya dapat ditafsirkan sebagai perilaku yang tertutup. Sikap belum merupakan
suatu tindakan atau aktifitas, tetapi merupakan predisposisi tindakan.
Allport
(1954), seperti yang dikutip dari Notoatmodjo (2003), menjelaskan bahwa sikap
terdiri atas 3 komponen pokok yaitu:
a.
Kepercayaan (keyakinan),
ide dan konsep terhadap suatu objek
b.
Kehidupan emosional
atau evaluasi emosional terhadap suatu objek
c. Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave).
Ketiga komponen ini secara
bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total
attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini pengetahuan berpikir,
keyakinan dan emosi memegang peranan penting.
Sikap merupakan suatu reaksi yang
masih tertutup, tidak dapat dilihat secara langsung sehingga sikap hanya dapat
ditafsirkan dari perilaku yang nampak. Pengertian lain sikap merupakan kesiapan
untuk bereaksi terhadap suatu obyek dengan cara tertentu serta merupakansuatu
respon evaluatif terhadap pengalaman kognisi, reaksi, afeksi, kehendak dan
perilaku berikutnya. Jadi sikap merupakan suatu respon evaluatif didasarkan
pada evaluasi diri, yang disimpulkan berupa penilaian positif dan negatif yang
kemudian mengkristal sebagai potensireaksi terhadap suatu obyek. Sikap adalah keadaan mental dan syaraf
dari kesiapan, yangdiatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh yang
dinamik dan terarah terhadap respon individu pada semua obyek dan situasi yang
berkaitan dengannya.
Menurut tingkatnya
sikap terdiri atassebagaiberikut:
a.
Menerima
Menerima diartikan bahwa orang
(subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek).
b.
Merespon
Memberikan jawaban apabila ditanya,
mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan, itu menunjukkan sikap
terhadap ide yang diterima. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan
atau mengerjakan tugas yang diberikan, lepas dari benar atau salah, berarti
orang menerima ide tersebut.
c.
Mengkaji
Mengajak orang lain untuk ikut
mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.
d.
Bertanggung jawab.
Mau bertanggung jawab atas suatu yang
sudah dipilih dengan segala resikonya. Ini merupakan sikap yang paling
tinggi.Pengukuran sikap secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat
atau pernyataan responden terhadap suatu masalah.
Decision
theory (Janis, 1985, dikutip dari Bart, 1994), mengganggap bahwa seorang
pasien yang menggambil keputusan. Hal ini juga tercermin dalam conflict theory dari Janis dan Mann (1997) yang
dikutip dari Bart (1994), bahwa pasien yang harus memutuskan apakah mereka akan
melakukan suatu tindakan medis dan oleh petugas kesehatan memberi tahu mengenai
prosedur, risiko dan efektifitas obat agar mereka bisa mengambil keputusan yang
tepat.
Suatu contoh sikap adalah sering ibu
yang dalam masa kehamilannya mendengarkan bahwa akibat anemia atau kurang darah
selama kehamilan adalah keguguran, kematian bayi, berat badan lahir rendah dan
bahkan kematian ibu.Pengetahuan ini akan membawa ibu untuk berpikir dan
berusaha supaya dia tidak menderita anemia selama kehamilan. Dalam berpikir ini
komponen emosi dan keyakinan ikut bekerja sehingga ibu berniat untuk
mengkonsumsi tablet zat besi selama masa kehamilan agar tidak menderita anemia.
Akhirnya dapat dikatakan bahwa ibu tersebut mempunyai sikap positif terhadap
objek yang berupa anemia.
Dasar-dasar dari teori perilaku
terencana Ajzen dalam Azswar, praktek dipengaruhi kehendak, sedangkan kehendak
dipengaruhi oleh sikap dan norma subyektif. Sikap sendiri dipengaruhi oleh
keyakinan akan hasil dari tindakan yang telah lalu.
Norma subyektif dipengaruhi oleh
keyakinan akan pendapat orang lain serta motivasi untuk mentaati terhadap
pendapat tersebut.
Tindakan adalah realisasi dari
pengetahuan dan sikap menjadi suatu perbuatan nyata. Tindakan juga merupakan
respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk nyata atau terbuka
(Notoatmodjo, 2003).
Respon terhadap stimulus tersebut
sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek (practice),
yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain. Oleh karena itu
disebut juga over behavior.
Empat tingkatan tindakan adalah:
1. Persepsi (Perception)
Mengenal dan memiliki berbagai objek
sehubungan dengan tindakan yang diambil.
2.
ResponTerpimpin (Guided
Response)
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan
urutan yang benar.
3.
Mekanisme (Mechanism)
Apabila seseorang telah dapat
melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau sesuatu itu merupakan
kebiasaan.
4. Adaptasi (Adaptation)
Adalah suatu praktek atau tindakan
yang sudah berkembang dengan baik, artinya tindakan itu sudah dimodifikasi
tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.
Perilaku dalam bentuk tindakan
(praktek) yang sudah konkrit, berupa perbuatan terhadap situasi atau rangsangan
dari luar. Praktek tersebut tercermin dari perhatian akan pentingnya kebutuhan
ibu hamil terhadap zat besi bagi kehamilannya. Atas dasar tersebut makan ibu
hamil akan mengkonsumsi tablet zat besi.
BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti
Kehamilan merupakan periode emas bagi ibu dan janin sekaligus sebagai periode yang sangat rentan terhadap berbagai
penyakit. Masa kehamilan
jika ditangani secara baik maka akan menghasilkan generasi penerus yang tumbuh
secara optimal sehingga
kecukupan mineral, protein
dan asam folatwajib dipenuhi. Kekurangan salah satu mineral misalnya zat besi akan
berpengaruh besar bagi kehamilan.
Dampak kekurangan zat besi pada wanita
hamil dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius bagi ibu baik dalam kehamilan,
persalinan dan nifas yaitu dapat mengakibatkan abortus, partus prematurus, partus lama karena inertia uteri, perdarahan post partum karena atonia uteri, syok, infeksi intra
partum maupun post partum
(Manuaba, 2001).
Kebutuhan zat besi ibu selama kehamilan
adalah 800 mg besi diantaranya 300 mg untuk janin plasenta dan 500 mg untuk
pertambahan eritrosit ibu, untuk itulah ibu hamil membutuhkan 2-3 mg zat besi
tiap hari.
Selama kehamilan minimal diberikan 90tablet dari umur
kehamilan 28 minggu sampai 42 minggu (trimester ketiga). Kebutuhan
ibu akan zat besi akan tercukupi jika
ibu patuh terhadap anjuran yang diberikan oleh petugas kesehatan.
Pada kenyataannya tidak semua ibu
hamil yang mendapat tablet zat besi meminumnya secara rutin.Hal ini dapat
disebabkan karena faktor ketidaktahuan pentingnya tablet zat besi untuk
kehamilannya. Mereka sering mendengar pentingnya mengkonsumsi zat besi selama
hamil namun ibu hamil belum memiliki keyakinan akan hal tersebut sehingga
walaupun sudah dianjurkan oleh bidan tetapi ibu hamil trimester III (tiga)
kurang melaksanakannya.Kepatuhan ibu didasari oleh perilaku yang baik.
Perilaku adalah tanggapan atau reaksi
individu terhadap rangsangan atau lingkungan (Depdiknas, 2005). Perilaku sehat
adalah tindakan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
Perilaku dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor yaitu pengetahuan, sikap dan
tindakan. Pada ibu hamil perilaku ini akan tercermin dari seberapa besar
pengetahuan ibu akan manfaat zat besi bagi perkembangan kehamilannya. Dari
pengetahuan yang baik akan menghasilkan sikap yang muncul dari kesadaran akan
pentingnya manfaat zat besi sehingga terwujud dalam tindakan ibu untuk
mengkonsumsi zat besi sesuai dosis yang sudah ditetapkan demi memenuhi
kebutuhan ibu dan janin.
Keterangan :
:
variabel dependen : variabel independen : variabel yang diteliti
Gambar I. Kerangka
Konsep
Pada bagian ini akan
diraikan mengenai defenisi/batasan operasional dan kriteria objektif yang
diteliti:
Pengetahuan :segala sesuatu
yang diketahui oleh responden dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang
kehamilan, manfaat zat besi, akibat kekurangan zat besi, suplementasi zat besi,
cara mengkonsumsi zat besi dan efek samping mengkonsumsi zat besi.
Kriteria objektif:
Cukup : apabila responden menjawab
dengan benar > 50% dari 15 pertanyaan yang diberi skor.
Kurang : apabila responden menjawab
dengan benar < 50% dari 15 pertanyaan yang diberi skor.
Skala : ordinal
Sikap : Merupakan kecenderungan untuk
berpikir atau reaksi responden yang menganggap seberapa penting/manfaat
mengkonsumsi tablet zat besi bagi kehamilannya, sejauh mana keyakinan ibu
sehingga berniat untuk mengkonsumsi tablet zat besi.
Kriteria objektif:
Baik : apabila responden menjawab dengan
benar > 60%
dari 10 pertanyaan yang diberi skor.
Kurang baik : apabila responden
menjawab dengan benar < 60% dari 10 pertanyaan yang diberi skor.
Skala : ordinal
Tindakan : Merupakan tindakan nyata
responden dalam mengkonsumsi tablet zat besi, berapa kali ibu mengkonsumsi zat
besi dalam sehari.
Kriteria objektif:
Baik : apabila responden
menjawab dengan benar > 50%
dari 10 pertanyaan yang diberi skor.
Kurang baik : apabila responden menjawab dengan benar
< 50% dari 10 pertanyaan yang diberi skor.
Skala : ordinal
4.
Kepatuhan ibu hamil mengkonsumsi tablet zat besi
Kepatuhan ibu hamil : ketaatan ibu hamil trimester III (tiga) dalam
mengonsumsi tablet zat besi, ketepatan
jumlah tablet yang dikonsumsi, ketepatan cara mengkonsumsi tablet zat besi dan
frekuensi konsumsi perhari.
Kriteria objektif:
Patuh : apabila responden
mengkonsumsi> 60 tablet zat
besi yang mengandung 60mg Fe dan 1,25
mg asam folat.
Tidak patuh : apabila responden
mengkonsumsi < 60 tabletzat besi yang mengandung 60mg Fe dan 1,25 mg asam
folat.
BAB IV
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang
digunakan adalah deskriptif,
yaitu untuk mendeskripsikan/menggambarkan perilaku ibu hamil Trimester III terhadap kepatuhan
mengkonsumsi tablet zat besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan
Lealea Kota BaubauTahun 2012.
Lokasi penelitianini dilaksanakan di
Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau karena lokasi
tersebut mudah dijangkau dan lebih menghemat biaya serta sampel untuk
penelitian ini mencukupi di daerah tersebut. Penelitian ini dilaksanakan pada
bulan Februari-Maret 2012.
1.
Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah
semua ibu hamil trimester III di Wilayah Kerja Puskesmas LowulowuKecamatan
Lealea Kota Baubau Tahun 2012 dengan jumlah populasi 30 orang.
2.
Sampel
Pengambilan sampel dalam penelitian
ini adalah menggunakan Totalsampling dimana
semua ibu hamil trimester III
diteliti dengan jumlah 30 orang.
1. Jenis
data
Data primer adalah data yang diperoleh
melalui pengisian kuesioner. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari
rekam medik Puskesmas Lowulowu bagian KIA.
2.
Instrumen penelitian
Instrumen yang dipergunakan pada
penelitian ini adalah kuisioner mengenai gambaran perilaku ibu hamil trimester
III terhadap kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi.
Dalam pengolahan dan analisis data
penulis menggunakan program Statistical Package for
the Social Sciences (SPSS) versi 18,0
Penyajian data
disajikan secara deskriptif dalam bentuk tabel distribusi frekuensi disertai
dengan penjelasan-penjelasan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran
Umum Lokasi Penelitian
1. Letak
geografis
Puskesmas Lowulowu merupakan puskesmas
yang terletak di Kecamatan Lealea dengan wilayah kerja terdiri dari 5 (lima)
kelurahan, yaitu ;
|
a.
|
Kelurahan
Lowulowu
|
|
b.
|
Kelurahan
Kalialia
|
|
c.
|
Kelurahan
Kolese
|
|
d.
|
Kelurahan
Kantalai
|
|
e.
|
Kelurahan
Palabusa
|
Batas wilayah operasional Puskesmas Lowulowu sebagai
berikut i
a.
Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Buton.
b.
Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Bungi.
c.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Selat Buton.
d.
Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Buton.
2.
Luas wilayah
Luas wilayah kerja Puskesmas Lowulowu
atau luas wilayah Kecamatan Lealea adalah 28, 93 km2, dengan
kepadatan penduduk 251, B jiwa/km2
Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Lowulowu dengan cara mengumpulkan data primer dan data sekunder dari 30 ibu
hamil trimester III
yang mengkonsumsi tablet zat besi, hasil penelitian yang telah dilakukan
disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Umur Ibu Hamil Trimester III terhadap Kepatuhan
Mengkonsumsi Tablet Zat Besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan
Lealea Kota Baubau Tahun 2012
|
Umur
|
Jumlah sampel (n)
|
Presentase
(%)
|
|
20-25 tahun
|
18
|
60
|
|
26-30 tahun
|
4
|
13,33
|
|
31-35 tahun
|
6
|
20
|
|
36-40 tahun
|
2
|
6,67
|
|
Jumlah
|
30
|
100
|
|
Sumber
: data primer
peneliti bulan Februari
tahun 2012
|
Berdasarkan tabel 5.1 menunjukkan
bahwa dari 30 responden ibu hamil trimester III, mayoritas berumur 20-25 tahun
sebanyak 18 orang (60%) dan yang minoritas berumur 36-40 tahun sebanyak 2 orang
(6,67%).
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Pendidikan Ibu Hamil Trimester III
terhadap Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Zat Besi di Wilayah Kerja Puskesmas
Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012
|
Pendidikan
|
Jumlah sampel (n)
|
Presentase
(%)
|
|
Tidak sekolah
|
1
|
3,33
|
|
SD
|
2
|
6,67
|
|
SMP
|
7
|
23,33
|
|
SMA/SMK
|
16
|
53,33
|
|
Perguruan tinggi
|
4
|
13,33
|
|
Jumlah
|
30
|
100
|
|
Sumber
: data primer
peneliti bulan Februari
tahun 2012
|
Tabel 5.2 menunjukkan bahwa
dari 30 orang responden ibu hamil trimester III, yang paling banyak berpendidikan SMA/SMK 16
orang (53,33%) dan 1 orang (3,33%) tidak sekolah.
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Pekerjaan Ibu Hamil Trimester III
terhadap Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Zat Besi di Wilayah Kerja Puskesmas
Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012
|
Pekerjaan
|
Jumlah sampel (n)
|
Presentase
(%)
|
|
Guru tidak tetap
|
1
|
3,33
|
|
IRT
|
28
|
93,33
|
|
PNS
|
1
|
3,33
|
|
Jumlah
|
30
|
100
|
|
Sumber
: data primer
peneliti bulan Februaritahun
2012
|
Tabel 5.2 menunjukkan bahwa
dari 30 orang responden ibu hamil trimester III, sebagian besar yaitu 28 orang
(93,33%) bekerja sebagai ibu rumah tangga (IRT).
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu Hamil Trimester
III terhadap Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Zat Besi di Wilayah Kerja Puskesmas
Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012
|
Pengetahuan
|
Jumlah sampel (n)
|
Presentase
(%)
|
|
Baik
|
15
|
50
|
|
Kurang Baik
|
15
|
50
|
|
Jumlah
|
30
|
100
|
|
Sumber
: data primer
peneliti bulan Februari
Tahun 2012
|
Tabel 5.4 menunjukkan bahwa responden
yang memiliki pengetahuan baik dan responden yang memiliki pengetahuan kurang baik seimbang.
Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Sikap Ibu Hamil Trimester III terhadap Kepatuhan
Mengkonsumsi Tablet Zat Besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan
Lealea Kota Baubau Tahun 2012
|
Sikap
|
Jumlah sampel (n)
|
Presentase
(%)
|
|
Baik
|
13
|
43,33
|
|
Kurang Baik
|
17
|
56,67
|
|
Jumlah
|
30
|
100
|
|
Sumber
: data primer
peneliti bulan Februari
Tahun 2012
|
Tabel 5.5 menunjukkan bahwa dari 30
responden ibu hamil trimester III terdapat 13 orang (43,33%) memiliki sikap
yang baik tentang mengkonsumsi tablet zat besi dan 17 orang (56,67%) memiliki
sikap kurang baik tentang mengkonsumsi tablet zat besi.
Tabel 5.6
Distribusi Frekuensi Tindakan Ibu Hamil Trimester III
terhadap Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Zat Besi di Wilayah Kerja Puskesmas
Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Tahun 2012
|
Tindakan
|
Jumlah sampel (n)
|
Presentase
(%)
|
|
Baik
|
12
|
40
|
|
Kurang Baik
|
18
|
60
|
|
Jumlah
|
30
|
100
|
|
Sumber
: data primer
peneliti bulan FebruariTahun
2012
|
Berdasarkan Tabel 5.6
menunjukkan bahwa dari 18 orang (60%) ibu hamil trimester III memiliki tindakan
yang kurang baik dalam mengkonsumsi tablet zat besi selama kehamilan.
Tabel 5.7
Distribusi Frekuensi Kepatuhan Ibu Hamil Trimester III
Mengkonsumsi Tablet Zat Besi di Wilayah Kerja Puskesmas Lowulowu Kecamatan
Lealea Kota Baubau Tahun 2012
|
Kepatuhan
|
Jumlah sampel (n)
|
Presentase
(%)
|
|
Patuh
|
12
|
40
|
|
Tidak patuh
|
18
|
60
|
|
Jumlah
|
30
|
100
|
|
Sumber
: data primer
peneliti bulan Februari
Tahun 2012
|
Tabel 5.7 menunjukkan bahwa dari 30
orang responden ibu hamil trimester III, sebagian besar yaitu 18 orang atau 60%
responden tidak patuh dalam mengkonsumsi tablet zat besi.
PENUTUP
Berdasarkan pembahasan hasil
penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai
berikut :
1.
Ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Lowulowu memilki
pengetahuan yang seimbang yaitu 15 orang (50%) memiliki pengetahuan baik dan 15
orang (50%) memiliki pengetahuan kurang baik tentang pentingnya mengkonsumsi
tablet zat besi.
2.
Ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Lowulowu memilki sikap
yang kurang baik yaitu dari 30 responden terdapat 17 orang atau 56,67% yang
memiliki sikap kurang baik tentang mengkonsumsi tablet zat besi.
3.
Ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Lowulowu memilki
tindakan atau praktik kurang baik yaitu dari 30 responden terdapat 18 orang
atau 60% memiliki praktik kurang baik dalam mengkonsumsi tablet zat besi.
Sejalan dengan hasil penelitian yang
telah dikemukakan dalam uraian sebelumnya, ada beberapa saran yang penulis
ingin sampaikan, yaitu :
1.
Mengingat pentingnya zat besi bagi ibu hamil
maka diharapkan kepada pihak Puskesmas Lowulowu untuk memberikan sosialisasi
guna peningkatan pengetahuan ibu hamil diwilayah kerjanya.
2.
Diharapkan bidan dan keluarga untuk bersama-sama
memberikan motivasi dan dukungan kepada ibu hamil trimester III agar menyadari
pentingnya mengkonsumsi tablet zat besi bagi ibu dan janin.
3.
Hendaknya ibu hamil memperhatikan keteraturan
dan memiliki pengawas dalam mengkonsumsi tablet zat besi agar tepat waktu dan
tepat jumlahnya.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto,
Suharsimi, 1998, Prosedur Penelitian, Rineka
Cipta, Jakarta.
Arisman, MB.,
2004, Gizi dalam Daur Kehidupan, EGC,
Jakarta.
Damaeyer EM.,
1993, Pencegahan dan Pengawasan Anemia Defisiensi
Besi (alih bahasa Arisman M.B) Cetakan 1, Widya Medika,Jakarta.
Departemen Kesehatan R.I. Ditjen
Kesehatan Masyarakat. 2002, Pedoman Pemberian Besi
bagi Petugas, Departemen Kesehatan, Jakarta.
Departemen
Kesehatan RI. 2003, Program Penanggulangan Anemia, Departemen
Kesehatan, Jakarta.
Francin, Erna.,
2004, Gizi dalam Kesehatan Reproduksi, EGC,
Jakarta.
Imron TH, Moch.,
2010, Metodologi Penelitian Bidang Kesehatan,
Sagung Seto, Jakarta.
Kusmiyati, Yuni.,
2008, Perawatan Ibu Hamil, Fitramaya,
Yogyakarta.
Manuaba, IBG, 1998, Ilmu Kebidanan, Penyakit
Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan, EGC, Jakarta.
Marpaung, Sri
Juani., 2009, Gambaran Pengetahuan Ibu Terhadap Pemberian Tablet Zat
Besi Pada Ibu Hamil DiKlinik Kasih Ibu Desa Durian Kec.Delitua Tahun 2009, Stikes Deli Husada Deli Tua, http://yasir.blogspot.com, diakses tanggal 14 Januari 2012.
Notoatmojodjo,
Soekidjo., 2007, Kesehatan Masyarakat, Rineka
Cipta, Jakarta.
Notoatmojodjo,
Soekidjo., 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan,
Rineka Cipta, Jakarta.
Oppusunggu, Riris.,
2009, Pengaruh Pemberian Tablet Tambah Darah (Fe) terhadap Produktivitas
Kerja Wanita Pensortir Daun Tembakau di PT X Kabupaten Deli Serdang, Medan,
Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara,
diakses tanggal 4 Februari 2012.
Prawirohardjo,
Sarwono., 2007, Ilmu Kebidanan, YBP-SP,
Jakarta.
Profil Kesehatan Puskesmas Lowulowu
Tahun 2011
Purwaningsih,
Marlia., 2006, Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketidakpatuhan
Ibu Hamil Mengkonsumsi Tablet Besi, Fakultas Kesehatan Universitas Gajah Mada,
Yogyakarta, Diakses tanggal 14 Januari 2012.
Safuddin AB., 2002, Buku Acuan Nasional
Pelayanan Kesehatan dan Maternal,Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo, Jakarta.
Sugiono, 2005, Metode Penelitian Administrasi, Alfabeta, Bandung.
Winkjosastro, Hanifa., 2007, Ilmu Kandungan, YBP-SP, Jakarta.
Wipayani, NMR.,
2008, Hubungan Pengetahuan tentang Anemia dengan Kepatuhan Ibu Hamil
Meminum Tablet Zat Besi di Desa Langensari Kecamatan Unggaran kabupaten
Semarang, STIKES Ngundi Waluyo, Semarang,
diakses tanggal 23 Januari 2012.
